Belajar Bertahan di Era Serba Tak Pasti, Syahnaz: “Pelaku Usaha Harus Kuatkan Fundamental di Tengah Kondisi VUCA”

Semarang, UP Radio — Dunia usaha saat ini bergerak semakin cepat dan penuh ketidakpastian. Perubahan bisa terjadi dalam hitungan jam, bahkan keputusan yang diambil pagi hari bisa berubah total di sore hari. Kondisi inilah yang dikenal sebagai volatile, uncertain, complex, dan ambiguous (VUCA) sebuah realitas yang kini dihadapi hampir semua pelaku usaha.

Dalam program talkshow Up Corner Spesial di UP Radio, Setiap pelaku usaha diajak untuk bisa memahami lebih dalam bagaimana menyikapi kondisi VUCA bersama Owner dan founder dari Rorokenes Semarang Syanaz Nadya Winanto Putri. Diskusi ini mengupas strategi bertahan dan berkembang di tengah situasi global dan domestik yang terus berubah.

Syanaz menjelaskan bahwa kondisi VUCA bukan berarti chaos tanpa pola. Justru di balik ketidakpastian tersebut, selalu ada pola yang bisa dipelajari dan dimitigasi. Menurutnya, kesalahan terbesar pelaku usaha adalah ikut panik dan kehilangan arah saat situasi mulai tidak menentu.

Advertisement

“Dalam kondisi yang terlihat kacau, sebenarnya ada pattern. Sama seperti tornado atau angin puting beliung, sebelum terjadi pasti ada tanda-tandanya. Tugas pelaku usaha adalah membaca pola itu, bukan ikut chaos,” ujar Syanaz di Studio UP Radio Semarang, Senin (26/1/2026).

Ia menegaskan bahwa ada dua faktor besar yang harus dipahami pelaku usaha. Pertama adalah faktor eksternal atau makro, yang meliputi kondisi global seperti geopolitik, perang dagang, kebijakan suku bunga dunia, hingga konflik internasional. Faktor kedua adalah kondisi domestik, mulai dari regulasi pemerintah, daya beli masyarakat, hingga stabilitas ekonomi nasional.

Namun menurut Syanaz, faktor penentu utama justru ada pada kondisi internal usaha. Fundamental internal yang kuat akan menentukan kemampuan bisnis dalam menghadapi tekanan eksternal.

“Makro global dan domestik itu tidak bisa kita kendalikan. Tapi internal usaha—manajemen, keuangan, strategi, dan data itu sepenuhnya dalam kendali kita,” jelasnya.

Belajar dari pengalaman pandemi Covid-19, Syanaz menilai banyak usaha tumbang bukan semata karena krisis, melainkan karena tidak memiliki kesiapan sistem dan strategi. Bahkan pasca pandemi, perubahan dinilai jauh lebih cepat dan menuntut adaptasi berkelanjutan.

Salah satu dampak paling terasa saat ini adalah penurunan daya beli masyarakat. Kondisi ini membuat konsumen cenderung menahan belanja dan lebih selektif. Karena itu, pelaku usaha dituntut untuk lebih jeli membaca data dan perilaku pasar.

“Jangan hanya mengandalkan insting. Data itu wajib, bahkan untuk UMKM. Dari data penjualan, keuangan, hingga perilaku konsumen, semua harus dianalisis agar keputusan bisnis tidak spekulatif,” tegasnya.

Ia menyarankan pelaku usaha rutin melakukan evaluasi menggunakan pendekatan dasar seperti Business Model Canvas (BMC), analisis SWOT, hingga perencanaan keuangan yang disiplin. Menurutnya, banyak usaha gagal karena mencampuradukkan keuangan pribadi dan bisnis.

“Keuntungan itu bukan langsung jadi uang pribadi. Modal harus dikembalikan dulu, lalu disiapkan dana cadangan, baru sisanya bisa diambil. Ini penting agar usaha punya napas panjang saat kondisi darurat,” ujarnya.

Selain itu, diversifikasi juga dinilai penting untuk menjaga nilai modal agar tidak tergerus inflasi dan fluktuasi nilai tukar. Namun Sana mengingatkan agar pelaku usaha tetap rasional dan tidak tergoda investasi berisiko tinggi tanpa dasar yang jelas.

Dalam situasi yang serba tidak pasti, strategi jangka panjang tetap dibutuhkan, namun harus disertai mitigasi risiko dan fleksibilitas. Sana menekankan pentingnya mengetahui kapan harus melanjutkan strategi dan kapan harus melakukan exit strategy.

“Kelihatan besar belum tentu sehat. Kadang justru menutup unit usaha yang tidak produktif adalah keputusan terbaik agar tujuan jangka panjang tetap tercapai,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya adaptasi terhadap perubahan perilaku konsumen, termasuk di pasar tradisional. Perubahan metode pembayaran, penggunaan teknologi sederhana seperti transfer dan QRIS, hingga pemanfaatan komunikasi digital menjadi kunci mempertahankan pelanggan.

“Pasar tradisional pun berubah. Yang bisa bertahan adalah mereka yang punya value dan mau beradaptasi,” ujarnya.

Syanaz menutup diskusi dengan pesan bahwa kondisi VUCA justru bisa menjadi momentum untuk belajar, mengevaluasi, dan tumbuh lebih kuat. Kuncinya adalah memahami data, memperkuat fundamental, dan tidak terjebak pada fear of missing out (FOMO).

“Yang bisa kita kendalikan adalah internal kita sendiri. Kalau fondasinya kuat, usaha akan tetap bertahan di kondisi apa pun,” pungkasnya. (shs)

Advertisement