Pagi itu, laut Kepulauan Derawan tampak tenang. Airnya biru jernih, nyaris tanpa riak, seolah menyimpan sebuah cerita besar di balik permukaannya. Di kejauhan, sebuah perahu bergerak perlahan, mengikuti bayangan raksasa yang berenang anggun di bawah air.
Bayangan itu bukan karang. Bukan pula kapal. Ia adalah hiu paus—ikan terbesar di dunia yang justru dikenal paling lembut di antara penghuni samudra.
Hari itu, empat hiu paus muncul bergantian ke permukaan. Tubuh mereka masif, panjangnya bisa menyamai bus besar, namun gerakannya tenang dan damai. Mereka tidak tahu bahwa kehadirannya sedang menjadi bagian dari upaya besar untuk menjaga masa depan laut Indonesia.
Empat hiu paus itu kemudian diberi nama: Pride, Prime, Bangka, dan Belitung.
Hiu paus (Rhincodon typus) sering dijuluki raksasa laut yang bersahabat. Makanan mereka hanyalah plankton dan ikan kecil. Mereka tidak agresif, tidak menyerang manusia, dan kerap berenang pelan di perairan tropis Indonesia. Namun di balik tubuhnya yang besar, hiu paus menyimpan kerentanan yang sama besarnya.
Berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN), populasi hiu paus dunia telah menurun lebih dari 50 persen dan sejak 2016 masuk dalam daftar merah spesies terancam punah. Salah satu penyebab utamanya adalah tabrakan dengan kapal besar, selain polusi laut, perubahan iklim, dan aktivitas penangkapan yang tidak disengaja. Ironisnya, jalur migrasi hiu paus kerap bersinggungan dengan jalur pelayaran yang sibuk.

Kesadaran inilah yang mendorong PT Pertamina International Shipping (PIS) mengambil langkah nyata. Pada 15–28 November 2025, PIS bersama Konservasi Indonesia melakukan penandaan satelit atau tagging terhadap empat hiu paus di perairan Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur. Perangkat kecil dipasang secara aman tanpa melukai hiu paus, memungkinkan peneliti memantau pergerakan mereka dari kejauhan.
Melalui teknologi ini, jalur migrasi, wilayah jelajah, dan habitat penting hiu paus dapat dipetakan dengan lebih akurat. Data tersebut tidak hanya berguna bagi penelitian, tetapi juga menjadi dasar penting dalam mengatur operasional pelayaran agar lebih ramah terhadap satwa laut.
Manager CSR PIS, Alih Istik Wahyuni, menjelaskan bahwa data dari penandaan hiu paus akan diintegrasikan dengan data rute pelayaran kapal PIS. Dengan begitu, potensi tabrakan antara kapal besar dan hiu paus dapat diminimalkan. Menurutnya, menjaga kelestarian laut bukanlah pilihan tambahan, melainkan tanggung jawab yang harus berjalan seiring dengan aktivitas industri maritim.
Dengan bantuan satelit, Pride, Prime, Bangka, dan Belitung kini “bercerita” tanpa suara. Setiap pergerakan mereka menjadi data berharga yang membantu peneliti memahami kehidupan hiu paus di perairan Nusantara. Mochamad Iqbal Herwata Putra, Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, menyebut bahwa hiu paus saat ini menghadapi ancaman yang kompleks.
Tabrakan kapal, polusi laut, perubahan iklim, hingga keterdamparan di pesisir menjadi tantangan serius bagi upaya pemulihan populasi hiu paus. Meski demikian, harapan masih ada. Dengan upaya konservasi yang konsisten dan kolaboratif, populasi hiu paus diyakini masih memiliki peluang untuk pulih, meskipun membutuhkan waktu panjang, bahkan hingga satu abad ke depan.
Upaya penandaan hiu paus di Derawan bukanlah yang pertama. Pada tahun sebelumnya, PIS telah menandai tiga hiu paus di perairan Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Papua Tengah. Artinya, dalam dua tahun terakhir, total tujuh hiu paus telah dipantau pergerakannya di perairan Indonesia.
Ketujuh individu tersebut membantu menyusun gambaran penting tentang koridor migrasi hiu paus Indonesia, yang dikenal sebagai salah satu jalur penting di dunia. Ke depan, data ini akan digunakan untuk menyusun peta risiko tabrakan kapal dan hiu paus, sekaligus menjadi dasar rekomendasi teknis bagi pengembangan standar keselamatan pelayaran.
Kegiatan penandaan hiu paus ini merupakan bagian dari program Marine BiodiverSEAty, di bawah payung BerSEAnergi untuk Laut, inisiatif CSR PIS yang berfokus pada pelestarian keanekaragaman hayati laut. Program ini sekaligus menegaskan komitmen PIS terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 14: Life Below Water.
Kini, Pride, Prime, Bangka, dan Belitung kembali berenang bebas di laut Derawan. Mereka tidak tahu bahwa pergerakannya dipantau dari angkasa. Mereka tidak tahu bahwa jalur kapal bisa berubah demi keselamatan mereka. Namun manusia tahu, dan dari pengetahuan itulah harapan dititipkan.
Di balik birunya laut Derawan, empat hiu paus itu menjadi pengingat bahwa menjaga laut berarti menjaga kehidupan—bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi yang akan datang.


