Humanity

Dinsos Kota Semarang Petakan Psikososial Anak Terdampak Pandemi

Semarang, UP Radio – Dalam rangka memperingati Hari Anak Sedunia, Dinas Sosial Kota Semarang mengadakan FGD Pemetaan Permasalah Piskososial anak akibat dampak dari Pandemi Covid 19, Senin (22/11/2021) di Hotel Grassia.

Direktur Yayasan Anantaka yang menjadi narasumber dalam FGD, Tsaniyatus Solikhah

Kepala Dinas Sosial Kota Semarang Drs. Muthohar mengatakan kegiatan tahun ini bukan berupa charity atau kampanye publik tetapi lebih kearah assesmen situasi anak atas keprihatinan situasi anak-anak saat ini.

“Tujuan diadakan nya FGD ini adalah untuk mengetahui permasalahan psikososial anak yang mereka rasakan dan mengidentifikasi perubahan perilaku anak akibat pandemi Covid 19. Diharapkan dari hasil FGD ini akan menjadi acuan intervensi yang bisa dilakukan oleh Dinas Sosial dalam rangka rehabilitasinya,” ujarnya.

“Anak-anak cukup antusias mengikuti acara ini, mereka mendapatkan ruang untuk menyampaikan segala keluh kesah yang mereka rasakan selama ini,” tandasnya.

FGD juga menghadirkan Narasumber dari Komisi D DPRD Kota Semarang dan Direktur Yayasan Anantaka.

Lely Purwandari selaku DPRD Komisi D Kota Semarang memberikan apresiasi kepada Dinas Sosial Kota Semarang yang memperingati Hari Anak Sedunia dengan kegiatan yang cukup strategis sebagai upaya untuk melakukan assesmen situasi anak-anak saat ini.

Sementara itu Tsaniatus Solihah,S.E Direktur Yayasan Anantaka yang menjadi Fasilitator dalam FGD ini menyatakan banyak sekali permasalahan psikososial anak yang dirasakan akibat pandemi Covid 19 mulai dari rasa malas, tidak peduli, kurang konsentrasi, tidak fokus dalam belajar, tertekan, kecanduan game, sulit berkomunikasi, dan beberapa kehilangan teman-teman nya dan lain-lain.

“Anak-anak banyak mengalami gangguan psikososial yang tentu nya harus menjadi perhatian dan fokus rehabilitasi dari Dinas Sosial Kota Semarang selaku leading sector dalam penanganan anak rentan,” jelas wanita yang akrab disapa Ika ini.

Muthohar menegaskan bahwa proses rehabilitasi anak-anak rentan akan menjadi fokus utama dalam program dan kegiatan di tahun 2022.

“Hasil FGD ini akan menjadi dasar dalam perencanaan dan intervensi proses rehabilitasi,” cetusnya.

Pandemi Covid 19 sudah memasuki tahun kedua, banyak upaya yang sudah dilakukan dalam menanggulangi Covid 19. Berbagai kampanye untuk mematuhi protokol kesehatan, pemberian vaksin dan adaptasi kebiasaan baru yang seharus nya sudah menjadi budaya baru saat ini.

Berbagai persoalan muncul akibat pandemi, Gelombang kedua yang menyebabkan ketakutan dan kecemasan berlebih dirasakan juga oleh anak-anak. Anak-anak yang terpapar harus berupaya keras untuk memulihkan diri sendiri dan menjaga lingkungan nya agar tidak terpapar.

Pengaruh media juga memberikan kontribusi yang cukup besar, berita-berita buruk yang terus menerus mempengaruhi psikis anak-anak dan menjadikan anak-anak cemas dengan situasi ini.

“Tentunya itu semua sangat berdampak pada anak-anak. Rasa bosan, kecemasan, terbatas nya ruang gerak menjadikan anak-anak mencari alternatif solusi untuk mengatasi nya dan tidak jarang memunculkan perilaku negatif, hal ini juga berdampak pada performa belajar dan kesehatan anak baik fisik maupun psikis dan tidak jarang mereka juga akhirnya menjadi korban kekerasan dan perlakukan salah lainnya,” pungkas Muthohar. (ksm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button