Jadi Solusi Konservasi Air, TPM UPGRIS Bersama Warga Sampangan Cegah Genangan Air dengan Pembuatan Biopori

Semarang, UP Radio – Tingginya curah hujan dan minimnya daya resap tanah di kawasan permukiman padat mendorong dilaksanakannya program pembuatan dan pemasangan Lubang Resapan Biopori (LRB) di Kelurahan Sampangan, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang.

Program ini menjadi salah satu upaya nyata untuk mengurangi genangan air yang kerap terjadi saat hujan deras.

Upaya konservasi air berbasis masyarakat tersebut dilaksanakan oleh tim dosen Fakultas Teknik dan Informatika Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berlangsung mulai 1 Oktober hingga 14 Desember 2025.

Advertisement

Tim pelaksana kegiatan pengabdian kepada masyarakat (TPM ) terdiri dari Ratri Septina Saraswati, ST MT dosen Arsitektur (ketua), dengan anggota tim terdiri dari Dr Bayu Arie Wibawa, ST MT (Arsitektur), Agustina Wardani, ST MT (Teknik Sipil) dan Anita Viana, S.Ars M.Ars (Arsitektur) yang didukung oleh mahasiswa.

Ketua tim pengabdian, Ratri Septina Saraswati, mengungkapkan, kegiatan ini dilatarbelakangi kondisi Kelurahan Sampangan sebagai kawasan permukiman padat dengan tingkat perkerasan lahan yang tinggi. Sebagian besar pekarangan dan bahu jalan telah tertutup semen dan paving block, sehingga air hujan tidak dapat meresap secara optimal dan menyebabkan genangan di sejumlah titik lingkungan.

Menurut Ratri tehnplogi biopori ini bisa menjadi solusi sederhana yang dapat diterapkan langsung oleh warga masyarakat.

“Dengan biopori, air hujan bisa lebih cepat meresap ke dalam tanah. Cara ini efektif untuk mengurangi genangan, terutama di lingkungan padat penduduk seperti Sampangan,” jelasnya.

Pelatihan pembuatan biopori dilakukan bersama warga RW 6 dan RW 7, dengan lokasi utama di RT 1 RW 6 yang selama ini dikenal sebagai salah satu titik rawan genangan.

Lubang biopori dibuat dengan diameter sekitar 10 sentimeter dan kedalaman hingga satu meter, kemudian diisi sampah organik berupa daun kering, rumput, dan sisa dapur rumah tangga.

Ketua RT 1 RW 6 Kelurahan Sampangan Sugiyanto, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan pengabdian masyarakat dari UPGRIS tersebut.

“Kegiatan ini sangat membantu warga kami. Selain mengurangi genangan saat hujan, warga juga jadi lebih paham cara mengelola sampah organik,” ujarnya.

Pada kegiatan ini TPM UPGRIS telah membuat sebanyak 25 unit lubang biopori yang dipasang di beberapa titik RW 6 dan RW 7. Hasil pemantauan setelah hujan menunjukkan bahwa genangan air di sejumlah lokasi berkurang dan air lebih cepat terserap ke dalam tanah.

Anggota tim pengabdian, Dr Bayu Arie Wibawa, menambahkan bahwa manfaat biopori tidak hanya pada konservasi air, tetapi juga pada pengelolaan sampah.

“Sampah organik yang dimasukkan ke lubang biopori akan terurai menjadi kompos dan dapat dimanfaatkan untuk tanaman warga,” jelasnya.

Warga RW 6 dan RW 7 menyambut positif kegiatan ini dan berkomitmen untuk melanjutkan pembuatan biopori secara mandiri.

Pada kesempatan tersebut Tim pengabdian juga menyerahkan alat bor biopori agar dapat digunakan secara bergiliran oleh warga.

Melalui program ini, tim dosen UPGRIS berharap teknologi biopori dapat menjadi solusi konservasi air yang berkelanjutan serta memperkuat peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan permukiman. (shs)

Advertisement