in

Jelang Peringatan Dies Natalis ke-39, UPGRIS Gelar Doa Bersama

Semarang, UP Radio – Setiap rangkaian peringangatan Dies Natalis Universitas PGRI Semarang selalu dilengkapi dengan acara ziarah mengenang para pendiri dan para mantan Rektor UPGRIS.

Namun pada peringatan Dies Natalis ke-39 UPGRIS prosesi yang berbeda terpaksa dilakukan tanpa melakukan ziarah makam para mantan rektor seperti pada peringatan tahun-tahun sebelumnya,

“Jika Biasanya kami ziarah langsung ke makam, tapi dimasa pandemi kali ini karena kondisi belum memungkinkan maka digelar dengan doa bersama,” kata Rektor UPGRIS Dr Muhdi saat menggelar  acara Doa bersama di Auditoeium lantai 7 Gedung Pusat UPGRIS Jalan Sidodadi Semarang (17/7).

Doa bersama kali ini diikuti segenap pimpinan dan civitas akademika Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) di ruangan auditorium UPGRIS, dan sebagian mengikuti melalui media daring yang juga diikuti keluarga pendiri dan mantan rektor, dikediaman masing-masing.

“Meski tanpa melakukan ziarah makam tapi tidak mengurangi kekhidmatan untuk mengenang jasa para pendiri dan mantan rektor yang telah berperan dalam kemajuan UPGRIS,” katanya

Doa bersama ini sebagai bentuk rasa hormat dan terimakasih atas jasa-jasa para pendiri dan mantan rektor dengan harapan agar  para penerus yang sekarang mengembang tugas selalu mengenang dan terinspirasi atas jasa mereka.

“Atas jasa para pendahulu ini, UPGRIS kini bisa menjadi kampus yang terus berlembang dan mampu menorehkan banyak prestasi seperti saat ini,” tambahnya.

UPGRIS  didirikan oleh Pengurus Daerah Tingkat I PGRI Provinsi Jawa Tengah melalui Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan (YPLP) IKIP PGRI Jawa Tengah dan merupakan perubahan bentuk dari IKIP PGRI Semarang dengan Akademi Teknologi Semarang.

Dalam sejarah perkembangannya, perjalanan Universitas PGRI Semarang hingga kini telah memasuki usia ke 39, telah terjadi lima kali prosesi kepemimpinan jabatan rektor.

Rektor IKIP PGRI Semarang sebagai cikal bakal Universitas PGRI Semarang Taruna SH, STKIP (1987-1992).  Setelahnya Rektor Prof Drs Satmoko (1993-1997) meneruskan estafet kepemimpinan di IKIP Semarang.

Di periode tahun 1997-2001 jabatan rektor diteruskan pada  Prof Drs Sugijono MSc, yang memiliki enam program studi yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Pendidikan Bahasa Inggris (PBI), Pendidikan Matematika, Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB), Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dan Pendidikan Biologi.

Prosesi pergantian rektor terus berlanjut di periode Rektor Dr Sulistiyo MPd. Menjadi yang keempat (2001-2009). Selanjutnya setelah mengampu jabatan rektor selama 2 periode, prosesi rektor berlanjut ke Dr. Muhdi (2009-sekarang).

Pada peride kepemimpinan Rektor Muhdi ini pula terjadi perubahan kelembagaan dari IKIP PGRI menjadi Universitas PGRI Semarang. (shs)

Written by Saut Simanjuntak

my life my adventures
i'm always strong

Comments

Leave a Reply

Loading…

0

BMW Astra Luncurkan Standar Layanan Baru di Era New Normal

Pancasila Sudah Mutlak Tidak Perlu Diperdebatkan Lagi