Ramai Disorot, Semarang Zoo Jelaskan Alasan Kandang Harimau Dikosongkan

Semarang, UP Radio – Pengosongan kandang harimau di Semarang Zoo sempat memunculkan beragam spekulasi di media sosial. Namun manajemen memastikan langkah tersebut justru menjadi bagian dari strategi konservasi untuk menjaga kualitas genetik satwanya.

Direktur PT Taman Satwa Semarang (Semarang Zoo), Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, menjelaskan bahwa harimau benggala yang sebelumnya Semarang Zoo pelihara merupakan hasil pembiakan lama. Jika diteruskan tanpa indukan baru, risiko perkawinan sedarah atau inbreeding tidak dapat dihindari.

“Kami sengaja mengosongkan kandang. Kalau breeding lama kami paksakan, dampaknya serius, mulai dari cacat genetik sampai kematian anakan sebelum dewasa,” kata Bimo di kantornya.

Advertisement

Ia menyebut, inbreeding kerap terlihat dengan tanda perubahan warna bulu yang terlalu pucat hingga gangguan fungsi organ vital. Kondisi tersebut menurutnya bertentangan dengan prinsip konservasi satwa.

“Masalah genetik itu bisa muncul di jantung, nafsu makan, bahkan pertumbuhan. Jadi ini bukan soal koleksi, tapi keberlangsungan satwa,” ujarnya.

Sebagai langkah sementara, kandang harimau benggala pihaknya alihkan untuk satwa lain seperti kapibara dan sitatunga. Di saat yang sama, Semarang Zoo tengah menyiapkan rencana menghadirkan satwa baru yang lebih relevan dengan upaya pelestarian.

Salah satu targetnya adalah Harimau Sumatra, satwa endemik Indonesia yang populasinya terus menurun di alam liar.

“Kami ingin Semarang Zoo punya Harimau Sumatra. Itu sebabnya kandang sengaja kami kosongkan dan siapkan dari sekarang,” jelas Bimo.

Menurutnya, setiap lembaga konservasi memiliki kewajiban moral dan ilmiah untuk mengembangbiakkan satwa secara bertanggung jawab. Proses penambahan koleksi dapat dilakukan melalui hibah maupun mekanisme tukar menukar antar lembaga konservasi.

“Konservasi itu wajib. Kita bisa mengajukan hibah atau pertukaran satwa, yang penting sesuai kaidah,” tuturnya.

Selain harimau, Semarang Zoo juga menghadapi tantangan lain dalam pengelolaan orangutan. Saat ini terdapat tiga orangutan Kalimantan jantan yang belum bisa di kembangbiakkan karena tidak adanya individu betina.

“Masih ada tiga orangutan jantan di sini. Kalau memungkinkan, dua di antaranya akan kami tukar dengan betina agar bisa berkembang biak,” ungkap Bimo.

Menanggapi isu negatif yang beredar di media sosial, Bimo menegaskan bahwa pengelolaan satwa berjalan berbasis ilmu pengetahuan, bukan opini.

“Kami bekerja pakai ilmu konservasi. Jadi kami fokus ke pekerjaan, bukan ke isu,” tegasnya. (ksm)

Advertisement