Bisnis

Semarang Budidayakan Daun Lompong, Untuk Ekspor ke Australia

Semarang, UP Radio – Jika biasanya tanaman lompong atau talas tumbuh liar di lahan-lahan kosong tanpa dimanfaatkan secara maksimal. Rupanya, tanaman bernama ilmiah Colocasia esculenta L yang masuk dalam jenis umbi-umbian ini memiliki peluang ekspor hingga ke Eropa, Amerika dan Australia.

Peluang ekspor daun lompong atau talas kering ke pasar luar negeri dimanfaatkan oleh CV Dian Pratama yang berada di Kota Semarang.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu dan Kepala Disperindag Jateng M. Arif Sambodo secara simbolis melakukan pelepasan ekspor perdana UMKM Mitra Binaan FTA Center Semarang, Pemerintah Kota Semarang dan Disperindag Provinsi Jawa tengah kepada CV Dian Pratama ke Australia.

Pelepasan ekspor perdana komoditas daun talas tersebut dilakukan di Balai Karantina Hasil Pertanian Pelabuhan Tanjung Mas Semarang, Senin (24/5) pagi.

Petani lompong atau talas sekaligus Direktur CV Dian Pratama, Hendy Purwanto mengatakan, awal mula terbersit pemikiran melakukan ekspor adalah karena permintaan daun lompong atau talas kering di luar negeri yang cukup tinggi.

“Melihat hal tersebut, kami kemudian menanggapi. Kami komunikasi dan ternyata di Indonesia bahan baku lompong atau talas sangat melimpah ruah. Kami kemudian melakukan penanaman agar permintaan ekspor terpenuhi,” kata Hendy.

Lewat dukungan Pemerintah Kota Semarang, pihaknya melakukan pengembangan penanaman untuk membantu para petani untuk mandiri.

“Awalnya di Jateng budidaya tanaman lompong masih relatif kecil, wilayah yang sudah mulai mengembangkan pertanian lompong atau talas yakni di Sukoharjo Solo, Purwodadi, Rembang, Purworejo dan Kendal, selanjutnya Kota Semarang tengah berupaya mengembangkan pertanian talas ini. Sehingga kami mengapresiasi upaya Pemkot Semarang yang antusias mengembangankan pertanian lompong atau talas untuk memenuhi ekspor dan permintaan pasar luar negeri,” imbuh Hendy.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu mengapresiasi langkah CV Dian Pratama mengambil peluang ekspor daun lompong atau talas ke pasar luar negeri.

Menurut Ita, sapaan akrab Hevearita, ekspor kali ini merupakan ekspor perdana yang dilakukan oleh CV Dian Pratama setelah sebelumnya berhasil melakukan dua kali ekspor daun lompong kuning atau talas.

“Ini potensi yang luar biasa, karena selama ini tanaman lompong atau talas ini kan hanya umbi-umbian yang dianggap gulma. Namun ternyata memiliki potensi luar biasa,” ujar Ita.

Ia menjelaskan jika dalam penanaman daun lompong ini tidak perlu pemeliharaan yang susah. “Tanaman ini perawatannya mudah dan tidak ada masa habisnya. Seperti pisang, petani cukup melakukan penanaman pertamanya, kemudian akan berkrmbang biak dan tumbuh terus menerus,” kata Ita.

Waktu penanaman Lompong atau Talas ini, lanjut Ita, hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk penanaman awal dan seterusnya hanya membutuhkan waktu 40 hari.

“Petani sangat diuntungkan, karena harga jualnya saja Rp. 18ribu dari petani. Bahkan 1 kg daun lompong kering, berasal dari 10 helai daun talas saja. Petani tidak perlu repot, melakukan perawatan khusus,” imbuhnya.

Melihat potensi tersebut, Ita ingin mengembangkan sektor pertanian tanaman lompong atau talas di kota Semarang. “Budidayanya sangat gampang. Untuk penanaman di lahan satu hektar bisa ditanami 20ribu tanaman lompong, dengan satu tanaman bisa menghasilkan 5 helai. Ini bisa dikembangkan dalam rangka masa pandemi masih ada UMKM kita yang bisa ekspor dan bisa naik kelas,” lanjutnya.

Menurut Ita, ekspor daun lompong atau talas kuning ini rencananya akan digunakan sebagai bahan salah satu minuman herbal di Australia. Potensi ekspornya juga merambah hingga Eropa dan Amerika.

“Saat ini di Kota Semarang memang belum dikembangkan secara luas, tapi pengekspornya dari Semarang. Dari sini, kami berupaya akan mendorong bersama Dinas Pertanian untuk budi daya lompong atau talas ini. Rencananya, Kamis (27/5) nanti kami akan mengadakan presentasi kemitraan dengan tujuan mendorong pertanian Semarang lebih baik.

Senada dengan Ita, Kepala Disperindag Jateng M. Arif Sambodo mendukung upaya pemkot Semarang dalam mengembangkan pertanian tanaman Lompong atau Talas dengan tujuan pemenuhan ekspor ke pasar luar negeri.

“Ini sangat menarik. Kita tahu ekspor Jawa tengah sampai tercatat Maret positif mencapai 24 persen. Sedangkan ekspor bahan baku herbal mencapai 7-8 persen. Dengan pengembangan pertanian tanaman lompong ini, secara tidak langsung bisa meningkatkan ekspor ke pasar luar negeri,” kata Arif sapaan akrabnya.

Arif menyebut permintaan daun lompong atau talas kering di Australia bahkan mencapai 10 kontainer per minggunya. Namun petani baru bisa memenuhi 3,6 ton atau 1 kontainer per dua minggu. “Artinya potensi ekspor daun lompong atau talas ini masih sangat besar,” katanya. (ksm)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button