Serapan Gabah Tertinggi Enam Tahun, Jawa Tengah Perkuat Peran sebagai Pilar Ketahanan Pangan Nasional Tahun 2025

Semarang, UP Radio — Kinerja sektor pangan Jawa Tengah sepanjang Tahun Anggaran 2025 menunjukkan capaian yang sangat positif dan strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

Realisasi tersebut tercermin dari penyerapan gabah dan beras oleh Perum BULOG di wilayah Jawa Tengah yang mencapai 331.618 ton setara beras, atau 98,56 persen dari target, sekaligus menjadi capaian tertinggi dalam enam tahun terakhir.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya, menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil sinergi lintas sektor dalam menjaga kesinambungan produksi dan stabilitas harga pangan.

Advertisement

“Capaian penyerapan gabah ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan berjalan efektif, sekaligus memberikan perlindungan harga bagi petani di Jawa Tengah,” ujarnya.

Capaian tersebut didorong oleh optimalisasi penyerapan pada periode panen raya Musim Tanam I dan Musim Tanam II, serta implementasi kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang efektif dalam menjaga stabilitas harga gabah di tingkat petani.

Secara spasial, penyerapan gabah terkonsentrasi di sentra produksi utama, antara lain Kabupaten Grobogan, Demak, Banyumas, Kendal, dan Boyolali, yang menjadi tulang punggung pengadaan gabah di Jawa Tengah.

Pada periode Musim Gadu, pengadaan gabah difokuskan sebagai instrumen stabilisasi harga guna menjaga keseimbangan pasar dan mengantisipasi fluktuasi harga pascapanen.

Langkah ini semakin menegaskan posisi Jawa Tengah sebagai salah satu kontributor utama dalam pengadaan beras nasional.

Selain sektor pangan, dukungan terhadap ekonomi kerakyatan juga terus diperkuat melalui penyaluran pembiayaan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Hingga akhir 2025, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Jawa Tengah mencapai Rp47,07 triliun kepada 897.004 debitur, sementara Kredit Ultra Mikro (UMi) terealisasi sebesar Rp1,46 triliun kepada 276.827 debitur.

Bayu Andy Prasetya menegaskan bahwa dukungan pembiayaan tersebut menjadi bagian penting dari upaya menjaga pertumbuhan ekonomi daerah.

“Penyaluran KUR dan UMi tidak hanya mendorong keberlanjutan usaha UMKM, tetapi juga berperan dalam penciptaan lapangan kerja serta penguatan daya saing ekonomi daerah,” jelasnya.

Secara keseluruhan, kinerja sektor pangan yang solid serta dukungan fiskal yang berkelanjutan mencerminkan peran aktif ALCo Kementerian Keuangan Provinsi Jawa Tengah dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. (rls)

Advertisement