Kesehatan

Strategi Pemkot Semarang Antisipasi Gelombang 3 Covid-19 saat Nataru

Semarang, UP Radio – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang melakukan sejumlah strategi agar tidak ada gelombang 3 Covid-19 saat perayaan Natal 2021 dan tahun baru 2022 (Nataru).

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Moh Abdul Hakam mengatakan, sejak jauh-jauh hari telah melakukan strategi agar kasus di Kota Semarang tetap landai dan tetap bertahan pada PPKM Level 1. Upaya yang dilakukan antara lain random sampling deteksi dini Covid-19.

Pemkot Semarang melalui dinas kesehatan telah menyasar ke sejumlah tempat antara lain sekolah, pasar, pusat perbelanjaan, dan tempat umum lainnya untuk skrining Covid-19. Harapannya, pada Nataru nanti tidak ada penyebaran Covid-19.

Edukasi protokol kesehatan (prokes) kepada masyarakat pun tak terhenti. Masyarakat diimbau tetap menerapkan prokes dalam setiap aktivitas mereka.

Percepatan vaksinasi terus dilakukan. Hingga kini, Hakam menyebutkan, capaian vaksinasi di ibu kota Provinsi Jawa Tengah ini telah mencapai 109,34 persen untuk dosis pertama (V1) atau 1.426.908 sasaran. Sedangkan, capaian vaksinasi dosis kedua (V2) sudah mencapi 94,98 persen atau sebanyak 1.239.509 sasaran.

“Vaksinasi yang persentasenya di bawah 70 persen kami upayakan melalui door to door atau dhodhog lawang,” katanya, Jumat (19/11/2021).

Menurutnya, ada  beberapa wilayah yang masih rendah capaian vaksinasinya, diantaranya di Semarang Utara, Gayamsari, Genuk, Semarang Selatan, Tugu, Mijen. Capaian vaksinasi di wilayah itu masih dibawah 70 persen.

“Capaiannya masih 68 – 69 persen. Makanya, kami genjot,” ucapnya.

Lebih lanjut, Hakam menambahkan, pemerintah pusat akan memberlakukan PPKM Level 3. Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan diantaranya membuat kegiatan kerumunan, semisal pesta kembang api atau perayaan lain yang dapat menimbulkan kerumunan. Mobilitas masyarakat juga dibatasi. Aparatur sipil negara (ASN) tidak diperbolehkan cuti. Upaya-upaya tersebut dilakukan agar tidak ada gelombang ketiga penyebaran Covid-19.

“Harapannya supaya tidak ada gelombang ketiga atau kenaikan kasus di Semarang,” ucapnya.

Sebelumnya, Hakam memprediksi akan terjadinya kenaikan kasus pada Oktober – Desember sebanyak 190 -200 kasus jika PPKM ditiadakan. Prediksi tersebut melihat dari grafik data pada 2020 ditambah dengan angka vaksinasi, serta penerapan protokol kesehatan.

“Kami belajar dari 2020. Angka kasus Covid-19 dari mesin learning yang kami masukan, kami juga masukan angka vaksin dan prokes, kalau tidak ada PPKM darurat, nanti ada peningkatan kasus akhir Desember 190 – 200 kasus,” papar Hakam. (ksm)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button