Semarang, UP Radio – Sepanjang tahun 2025, tanah longsor menjadi bencana alam yang paling sering terjadi di Kota Semarang.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang mencatat sebanyak 160 kejadian longsor, mayoritas terjadi di wilayah dengan kontur perbukitan dan masuk dalam kawasan rawan bencana.
Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P. Martanto, mengatakan sebaran kejadian longsor tersebut masih sejalan dengan peta Kawasan Rawan Bencana yang telah disusun sebelumnya. Kondisi geografis menjadi faktor utama yang memicu tingginya potensi longsor, terutama saat curah hujan meningkat.
“Wilayah yang mengalami longsor sebagian besar berada di kecamatan dengan kondisi perbukitan. Ini sesuai dengan peta kerawanan yang sudah kami miliki,” ujar Endro, Selasa, 6 Januari 2026.
Beberapa kecamatan yang mencatat kejadian longsor tertinggi antara lain Kecamatan Candisari, Ngaliyan, Gajahmungkur, Tembalang, dan Gunungpati.
Di wilayah tersebut, sejumlah kelurahan seperti Candisari, Wonosari, Lempongsari, Tandang, hingga Sadeng menjadi titik perhatian BPBD dalam upaya mitigasi ke depan.
Menurut Endro, BPBD terus mendorong langkah pencegahan, mulai dari edukasi masyarakat, pemantauan lereng rawan longsor, hingga koordinasi lintas sektor untuk mengurangi risiko bencana.
“Wilayah-wilayah ini menjadi prioritas kami dalam upaya mitigasi agar dampak bencana bisa kami tekan,” jelasnya.
Selain tanah longsor, BPBD juga mencatat rumah roboh sebagai bencana kedua terbanyak sepanjang 2025.
Dari total 79 kejadian rumah roboh, sebanyak 27 di antaranya disebabkan pohon tumbang, sementara sekitar 40 kejadian lainnya dipicu oleh longsor.
“Sebagian rumah roboh juga lantaran usia bangunan yang sudah lapuk, serta beberapa kejadian akibat angin puting beliung,” kata Endro.
Dari sisi korban jiwa, BPBD Kota Semarang mencatat sembilan orang meninggal dunia akibat bencana sepanjang tahun 2025. Peristiwa kebakaran menjadi penyebab utama tingginya jumlah korban meninggal tersebut.
“Korban meninggal paling banyak akibat kebakaran. Ada satu kejadian dengan tiga korban jiwa karena kebakaran terjadi pada malam hari saat korban sedang tertidur,” ungkapnya.
Selain itu, satu korban meninggal dunia juga tercatat akibat bangunan roboh di wilayah Semarang Tengah, serta satu keluarga menjadi korban dalam peristiwa kebakaran di Semarang Timur.
Memasuki awal tahun 2026, Endro mengingatkan masyarakat agar tetap waspada, terutama karena kondisi cuaca ekstrem dan musim hujan masih berlangsung.
Ia mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi longsor, angin kencang, dan pohon tumbang.
“Jika hujan deras disertai angin kencang, masyarakat sebaiknya tidak berteduh di bawah pohon karena sangat berisiko,” imbaunya.
BPBD juga mengingatkan masyarakat pesisir, nelayan, dan pemancing untuk lebih berhati-hati terhadap potensi gelombang tinggi dan cuaca ekstrem di laut. Informasi cuaca dari BMKG dan Syahbandar harapannya selalu menjadi acuan sebelum melaut.
“Keselamatan harus menjadi prioritas utama. Jangan memaksakan aktivitas jika kondisi cuaca tidak memungkinkan,” pungkas Endro. (ksm)


