in , ,

Erwin dan Syifaul Bersiap Magang Kerja di Jepang

Semarang, UP Radio – Etos kerja orang-orang Jepang terkenal begitu tinggi. Disiplin dan kerja keras menjadi ciri khas watak orang Jepang. Bahkan sampai ada istilah “hatarakibachi” dalam bahasa Jepang yang artinya pecandu kerja.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Erwin dan Syaiful, mahasiswa Universitas PGRI Semarang yang hendak mengikuti program magang kerja di Jepang.

Untuk mempersiapkan calon pemagang bisa mengikuti program tersebut secara lancar, belasan mahasiswa mengikuti sosialisasi program “internship” oleh Japan Association of Career Course and Employment Support (Jacces) kerja sama dengan kantor Urusan Kerja sama dan Hubungan Internasional, pada 18 Desember 2019, di Gedung Pusat lantai 2.

Hadir sebagai pengisi, Toyozato kazumasa, Iramina Hiroyuki, dan Nakamura Kazumasa. Ketiganya adalah perwakilan dari Jacces.

Dalam sosialisasi tersebut, Iramina Hiroyuki menegaskan hal-hal penting yang harus dimiliki oleh mahasiswa yang hendak magang di Jepang, dua di antaranya ialah perihal disiplin waktu dan etika kerja.

“Di perusahaan Jepang, para pemagang harus selalu tepat waktu. Orang yang tidak tepat waktu sangat tidak dipercaya oleh warga Jepang,” ungkap Iramina dalam paparannya.

Selain itu, dalam bekerja pemagang juga harus memegang teguh etika dan sopan santun. “Menyapa dengan sopan dan ramah teman kerja dan atasan jadi kebiasaan pokok. Tak boleh cemberut, harus selalu menampilkan wajah senyum dan ramah saat berkomunikasi dengan rekan dan atasan,” tandasnya.

Sementara Ketua Program Studi Teknologi pangan, M. Khoiron Ferdiansyah, sangat menyambut baik sosialisasi tersebut.

Ia berpesan agar para peminat magang di Jepang memanfaatkan kesempatan ini dan kelak bisa banyak belajar dari dua mahasiswa Teknologi Pangan yang berhasil diterima di program ini, yaitu Erwin Setiawan dan Ahmad Syifaul Qulub. Keduanya akan berangkat ke Jepang pada Januari untuk setahun ke depan. (ripai)

What do you think?

Tingkatkan Kompetensi Guru dan Siswa Lewat Sekolah Ramah Anak

Sempat Viral, Kampung Sawah di Mijen Kondisinya Kini Tak Terurus