in

Aplikasi PSBB, Bantu Pasarkan Jualan Sayur dan Buah Bandungan

Semarang, UP Radio – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengapresiasi langkah sekelompok pemuda yang membuat aplikasi PSBB, kependekan dari ‘Pusat Sayur dan Buah Bandungan’ untuk membantu pedagang di Bandungan memasarkan dagangannya.

Menurut Ganjar sebagai penghasil dan penjualan sayur serta buah-buahan di Kabupaten Semarang semenjak Pandemi COVID-19 menyerang, penjualan di pasar menurun drastis.

“Maka pada saat itu ada anak-anak kreatif ini terus membantu pedagang dengan membuat aplikasi PSB Bandungan (PSBB).  Karena sebenarnya di Bandungan ini sudah sangat terkenal sayurannya seger, buahnya bagus. Tapi begitu Corona mereka tidak bisa jualan karena PSBB. Nah solusinya PSBB,” kata Ganjar.

Awalnya, aplikasi PSBB tercetus akibat keresehan Riza Rifai bersama empat rekannya, warga Kelurahan Bandungan Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang dengan adanya larangan berjualan di pasar di masa Pandemi ini.

“Tapi kalau hanya resah kan tidak menyelesaikan masalah. Apalagi peraturannya memang begitu demi keselamatan semuanya. Akhirnya kami berlima rembugan dan lahirlah aplikasi PSBB ini,” Ujar Rifai.

Aplikasi tersebut menawarkan berbagai sayur, buah-buahan, kuliner sampai kerajinan khas Bandungan. Seperti sawi, selada, wortel, susu kedelai, tahu sampai nasi jagung.

Niat baik Rifai dan rekan-rekannya tidak selalu mendapat tanggapan baik. Ajakannya beberapa kali dimentahkan oleh pedagang. Setelah dia mempresentasikan karyanya tersebut kepada Camat setempat, pemuda-pemuda lainnya juga turut membantu, perlahan para pedagang menunjukkan minatnya. Terlebih kondisi pasar yang sering sepi.

“Sekarang kami punya mitra 100. Ada yang pedagang, petani sampai UMKM. Sekarang transaksinya satu hari sekitar Rp 1,5 juta,” katanya.

Kepada Ganjar, Rifai menjelaskan pada setiap transaksi pembeli bisa langsung order by name di aplikasi. Artinya, karena pengusaha tahu tidak cuma satu, misalnya, pembeli bisa menunjuk salah satu di antaranya.

Salah satu pedagang, Mbah Slamet (68) awalnya hanya menurut dan ngikut saja ketika sekelompok pemuda tersebut menawarkan layanan pemasaran online. Bagi nenek yang memiliki tiga buyut itu, asal nasi jagungnya laris dan dijualkan secara baik, dia ok saja.

“Diajak mas Rifai itu. Ya ngikut saja saja. Aplikasinya apa ya tidak tahu,” kata Mbah Selamet, Rabu (10/6).

Sejatinya Mbah Slamet tidak paham apa sebenarnya pemasaran online itu. Apalagi tentang aplikasi penjualan online. Selama 30 tahun dia hanya mangkal di Pasar Bandungan menjajakan nasi jagung, sayur lompong, bothok sampai ikan asin. Setiap porsinya dihargai Rp 10 ribu.

Langkah sekelompok pemuda tersebut menurut Ganjar sangat bagus, karena masyarakat bisa tetap bekerja dan jualan tapi beda tempat dan beda cara. Anak-anak muda itu, lanjut Ganjar juga mengamalkan fungsi sosial selain fungsi ekonomi karena ini gratis ongkos pengiriman.

“Mudah-mudahan ini awal yang bagus untuk terus mengenalkan. Saran saya, aplikasinya mesti dikenalkan sehingga orang tahu, kelak di kemudian hari ini akan menggelinding. Ada yang jualan konvensional, ada juga yang virtual,” tandasnya. (hum)

Written by Saut Simanjuntak

my life my adventures
i'm always strong

Comments

Leave a Reply

Loading…

0

XL Axiata Sukses Raih Peringkat 10 Besar di Indonesia

Pertamina Gelar Program Pinky Movement Bagi UKM dan UMKM